Kamis, 18 November 2010

Bocah 8 Tahun, Hidup Tanpa Anus

Palupost.com - Neng Purnamasari bocah berusia delapan tahun sejak lahir hidupnya menderita karena tak memiliki anus sekalipun sudah menjalani dua kali operasi namun tetap saja penyakitnya tak kunjung sembuh ditambah lagi himpitan ekonomi keluarga yang memprihatinkan mengingat tulang punggung keluarga telah tiada.
“Saat operasi pertama dan kedua, saya dan keluarga masih sanggup karena ada rumah yang kami jual, tapi saat ini kami sudah tidak memiliki harta benda yang dapat di jual,”ujar  Siti Lilis Mayati, orangtua Neng yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang cuci keliling.

Menurut Siti Lilis Mayati, anaknya bisa hidup normal jika Neng telah menjalani operasi sebanyak empat kali demikian petunjuk tim dokter. Namun karena keterbatasan biaya maka operasi belum bisa dilanjutkan sehingga anaknya hingga sekarang jika buang kotoran masih melalui pembuangan pengganti anus dibagian kiri perutnya yang diikat dengan kantong plastik

Penyakit yang diderita Neng menyebabkan ia tak bisa mengecap pendidikan karena penyakit yang dideritanya menyebabkan ia dijauhi teman-teman seusianya karena mengeluarkan bau kurang sedap”saya dijauhi teman-teman karena bau,”ungkap Neng polos.

Siti Lilis Mayati berharap penderitaan yang dialami anaknya bisa segera berakhir dan berharap ada bantuan dari masyarakat yang peduli terhadap kondisi yang dialami anaknya mengingat mereka tak memiliki biaya untuk mengobati anak bungsunya. Yudi

Selasa, 16 November 2010

Ditlantas Polda Sulteng Prihatin Soal Trayek

Palupost.com - Ditlantas Polda Sulteng Gelar Rapat pertemuan dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Palu, terkait pembahasan mengenai sejumlah permasalah penertiban mobil rental dan trayek yang banyak dikeluhkan sejumlah sopir angkot yang melakukan unjuk rasa Rabu lalu.  

"Saya terus terang prihatin dengan kekacauan trayek angkot di Kota Palu ini, karena itu kami siap bekerja sama untuk memperbaikinya bahkan memberikan kontribusi dalam membangun sistim transportasi yang sehat di daerah ini," Kata  Dirlantas Polda Sulteng Kombes Pol Hariadi,yang ditemui media ini diruang kerjanya Rabu (16/11) kemarin.

Menurut dia, trayek angkot sebenarnya telah ada bahkan diatur dalam sebuah Perda, namun tidak pernah bisa ditaati pengemudi. Banyak kendalanya, misalnya, banyak pemilik angkot merasa bahwa pembagian trayek tidak adil. Di kalangan sopir angkot masih ada istilah trayek basah dan trayek kering.

Selain itu, sosialisai trayek belum maksimal sudah dilakukan tindakan represif. "Ini tidak bisa, karena akan semakin menimbulkan sikap resistensi di masayarakat," ujarnya. Karena itu, dalam rapat koordinasi yang dipimpinnya diruang Kapolres Palu dan dihadiri dari perwakilan Dishub Kota Palu, pengurus Organda dan pengusaha angkutan itu, Hariadi mengajak semua pihak terkait untuk membenahi trayek tersebut.

"Kalau perlu kita lakukan undian saja kepada pemilik angkot dalam menentukan pengisian trayek supaya tidak ada yang merasa dianak-tirikan dan merasa diberi trayek kering.” ujarnya. Setelah trayek dibenahi, kita lakukan sosialisasi yang intens dan pendekatan persuasif kepada yang melanggar ketentuan trayek. Setelah sosialisai dianggap maksimal, baru dilakukan langkah represif.

Hariadi mengaku Bangga kalau idenya diterima oleh pihak yang terkait tentang permasalahan untuk disepakati kemudian dilaksanakan dengan menetapkan langkah-langkah implementasinya secara pertahap. Terkait beroperasinya angkutan plat hitam melayani trayek-trayek antarkota dalam kabupaten, Hariadi mengemukakan, tidak ada masalah sepanjang mereka mendapat ijin dari Dinas Perhubungan.

"Namun bila angkutan itu tidak mengantongi ijin, polisi lalu lintas telah diperintahkan untuk melakukan penertiban," kata perwira berpangkat Tiga bunga dipundaknya ini. Akan tetapi Hariadi juga berharap kepada jajaran Dishub agar tidak mengobral pemberian ijin angkutan kepada kendaraan plat hitam supaya tidak merugikan pengusaha angkutan umum. Yudi


Minggu, 07 November 2010

Orang Gila Bantai Satu Keluarga… 2 Orang Kritis

Palupost.com -  Moh Iksan alias Ujang (20) tiba-tiba mengamuk dan membantai keluarganya dengan sebilah parang. Pemuda yang diduga sakit jiwa ini menghabisi sang Nenek, bernama Lawila Lapajati (83), yang tengah terbaring sakit didalam kamar rumah.

Peristiwa berdarah ini terjadi di Dusun Lambara Kecamatan Palu Utara, pada Sabtu (6/11)  pagi pukul 09.30 WIB. Ujang yang hilang ingatan mengambil parang lalu menyerang keluarganya yang saat itu sedang sarapan pagi.

Korban pertama yang diserang Kandra adalah sang Nenek, Lawila Lapajati (83), Ujang menebas kepala  Neneknya berulang-ulang. Neneknya yang saat itu sedang terbaring sakit didalam tidak dapat melawan dan akhirnya tewas.

Tidak hanya menghabisi Neneknya, Ujang meneruskan aksinya dengan menebaskan parang ke lengan bagian kanan pamannya sendiri, bernama Ansar (55). Mendengar jeritan ayahnya yang berteriak minta tolong, Ansar yang tak lain anak dari Lawira, yang berniat menolong ayahnya ditebas sama Ujang, tak luput menjadi korban, dan akhirnya berhasil di selamatkan yang dibantu warga sekitar Tempat Kejadian Perkarsa (TKP), akibat dari peristiwa naas tersebut ayah dan anak mengalami luka bacokan dilengan dan dibagian punggung, dan saat ini keduanya masih menjalani perawatan intensif di RS Madani. 

Menurut Fatha anak dari korban menjelaskan, peristiwa itu memang tidak diduga kalau terjadi seperti itu, karena pada waktu sebelum peristiwa terjadi kami sedang melakukan sarapan pagi dirumah. “ Tiba-tiba pelaku langsung mengambil parang kemudian masuk kedalam sebuah bilik  lalu membacok nenek yang sedang terbaring sakit didalam kamar.” Bebernya.


Aksi membabi buta Kandra akhirnya dilerai aparat kepolisian yang dibantu oleh sejumlah warga kemidian menghajarnya lalu dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Mamboro. "Anggota kami yang dibantu warga langsung mengamankan pelaku dan digelandang di Polsek Palu Utara kemudian di bawa ke RS Jiwa Mamboro. Sebelumnya pelaku sempat menjadi bulanan warga yang marah akibat dari perbuatan yang membabibuta itu." kata Kapolsek Palu Utara, AKP Tri Okta, yang dikinfirmasi sejumlah wartawan Sabtu (6/11) akhir pekan lalu. Yudi

Depresi Akibat Penyakit…. Tersangka Narkoba Gantung Diri

Palupost.com - Diduga karena depresi dengan penyakit tumor otak yang dideritanya, tersangka kasus Narkoba jenis Koplo THD,  Andi Abdi Warga Labuan, yang ditangkap Sat Narkoba Polres Palu, akhirnya tewas karena nekat melakukan bunuh diri dengan cara menggantung, Rabu (3/11) pekan lalu. 

Kapolres Palu, AKBP Deden Garnada yang dikonfirmasi, Minggu (7/11) kemarin, membenarkan tersangka Narkoba yang penahanannya ditangguhkan karena tersangka akan berawat lanjut ditemukan tewas diduga gantung diri di kamar rumahnya di Desa Labuan Rabu lalu. 

Menurut Kapolres, tersangka ditangkap anggota Polres Palu di Kecamatan Palu Utara bersama rekannya, Oktober 2010 lalu, kasus kepemilikan narkoba jenis Pil Koplo THD. Sebelum tewas tersangka memang ditahan di Polres Palu. Atas permintaan keluarganya, pada Jumat (29/10) pekan lalu, keluarga tersangka bermohon penangguhan penahanan karena tersangka mengalami penyakit tumor otak.
Tersangka yang pernah dirawat di rumah sakit di Makassar akhirnya dibawa pulang ke rumahnya di Desa Labuan. “Mungkin dia depresi dengan penyakitnya sampai dia mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Kasus gantung dirinya yang menangani Polsek Labuan karena tersangka gantung diri di rumahnya sendiri di Desa Labuan Kabupaten Donggala,” jelas Kapolres Deden Garnada. Yudi









Sabtu, 06 November 2010

600 Lebih Bintara Samapta Ikut Pembaretan

Palupost.com -  “Pembaretan mempunyai arti dan makna,  bahwa sejak hari ini kalian telah resmi menjadi keluarga besar Polisi,  yang dituntut untuk menjadi contoh teladan bagi seluruh personel Polisi Lainnya dan masyarakat,”. Demikian sebagian Amanat Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulteng  Brigjen Pol M Amin Saleh, selaku Inspektur Upacara  pada Pembaretan Personil Bintara Samapta Angkatan ke-31, di Poboya, Sabtu (6/11) akhir pekan kemarin.   
 
Selanjutnya pada kesempatan tersebut Amin menyatakan bahwa Polisi mempunyai tugas pokok penting yang harus dilaksanakan, yaitu penyelidikan kriminal, pengamanan fisik, penegakkan tata tertib dan disiplin, penegakan hukum bagi kepentingan Polisi.



Di sisi lain lanjut Perwira berpangkat bintang satu menekankan agar Anggota Polisi harus dapat bertindak, bersikap sebagai aparatur penegak hukum yang dapat berkerja secara jujur, adil dan berani menegakkan kebenaran serta bertanggung jawab.
 
Pembaretan Bintara Samapta Angkatan ke- 31 diikuti 600 lebih siswa, yang terbagi siswa SPN Batua Makasar sebanyak 411 siswa, dan SPN Labuan Panimba sebanyak 200 siswa, yang  sebelumnya telah melaksanakan Tradisi Kepolisian selama 3 Minggu di daerah Kelurahan Poboya dan sekitarnya. Tradisi yang dilaksanakan meliputi : Penghadangan, penyergapan, pengintaian, penggerebekkan, pengejaran, pembersihan dan mandi suci.
 
Bintara Samapta Angkatan ke-31 menempuh pendidikan selama Enam bulan di SPN.
Upacara pembaretan dilaksanakan di lapangan  Upacara Poboya diikuti oleh seluruh anggota Polisi lainnya serta siswa Bintara Samapta angkatan ke-31. Hadir dalam acara tersebut   Wakapolda Sulteng Kombes Pol Dewa Parsana, Dirlantas Polda Sulteng Kombes Pol Drs Hariadi, Dir Samapta Polda Sulteng Kombes Pol Ifraizal Nasution, dan Kabid Humas Polda Sulteng Kompol Kahar Muzakkir. Yudi

Jumat, 05 November 2010

Kapolda Sulteng, Ngaku Pernah Pergoki Polantas Terima Suap

Palupost.com - Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulteng Brigjen Pol M Amin Saleh mengaku pernah memergoki oknum anggota Polisi Lalu Lintas (polantas) yang menerima sogokan dari pengendara sepeda motor di jalan.


"Saya pernah memergoki anggota lalu lintas menerima itu (sogokan). Begitu mau menilang, yang ditilang atau dari pengendaranya mengatakan nggak usah pak, saya punya uang Rp100 ribu," kata Kapolda Amin Saleh saat menjadi pembicara dalam dialog interaktif di Radio Nebula, beberapa hari lalu.


Pernyataan Kapolda Amin Saleh itu merupakan jawaban dari pertanyaan Dede, seorang pendengar Radio Nebula mengenai maraknya tindakan tidak terpuji oleh sejumlah oknum polantas di jalan, salah satunya dengan menerima 'upeti' dari pengendara yang melakukan pelanggaran lalu lintas. Meski identitasnya dirahasiakan, namun dia mengatakan, oknum polantas yang kedapatan melakukan tindakan negatif itu langsung ditegur dan diberi tindakan tegas sesuai tingkat pelanggarannya.

Tindakan oknum anggotanya itu, menurut Amin Saleh, merupakan pelanggaran kode etik kepolisian yang mesti ditindak tegas dan tidak pantas dicontohi. Namun menurut dia, tindakan negatif itu juga dipengaruhi oleh pengendara itu sendiri yang meminta agar polisi tidak memberikan tindakan langsung (tilang) di tempat. "Kadang-kadang mungkin itulah karena oknum polantas itu kepanasan dan diterpa angin yang tidak sedap sehingga yang bersangkutan melakukan cara seperti itu," katanya.


Selain memergoki menerima sogokan, Amin Saleh juga mengaku pernah melihat langsung tindakan oknum anggota Polantas yang ucapan dan sikapnya tidak terpuji.
"Saya juga pernah melihat langsung anggota polantas yang bersikap seperti itu. Kesimpulannya, sikap dan ucapannya itu tidak pantas dilakukan dan saat itu juga saya langsung tegur dan beri tindakan tegas," ujar perwira berbintang satu itu.

Menurut dia, jika ada kesalahan dari pengendara yang melanggar rambu lalu lintas, maka tentunya harus diperlakukan dengan baik dan sopan, bukan dengan sewenang-wenangnya. Dia mengatakan, tindakan semacam itu dilakukan oleh oknum anggotanya karena salah satunya terpengaruh dengan lingkungan dan diupayakan bisa berkurang agar mereka selalu menampilkan pola perilaku dan ucapan yang baik sesuai norma masyarakat. "Saya sudah seringkali beritahu untuk selalu mengedepankan 3S, senyum, sapa dan salam kepada para pengguna jalan," ujar orang pertama di Polda Sulteng itu.


Untuk menghindari dan mencegah terjadinya tindakan tercela itu, Kapolda Amin Saleh menuturkan terus berusaha menghilangkan tradisi negatif itu agar tercipta profesionalisme kepolisian di Tanah Air.  "Hal itu adalah pengaruh-pengaruh yang memang kita sadari dan harus segera dieliminasi," kata Kapolda Amin Saleh. Selain Kapolda Amin Saleh, dalam dialog interaktif bertema Membangun Perpolisian Demokratik Profesional Mandiri itu juga menghadirkan dua pembicara lain yakni Prof Dr H Laode Husain SH MH (anggota Komisi Kepolisian Nasional), Dr Aminuddin Kasim SH MH (praktisi hukum dari Fakultas Hukum Universitas Tadulako Palu). Yudi

Deputi Pemberdayaan Perempuan, Kunjungi Yasal


Palupost.com - Jum’at (5/11) kemarin, Deputy Pemberdayaan Perempuan Nimas Aulia, berkunjung di Yayasan Alkautsar (Yasal), guna bertemu langsung dengan sejumlah penghuni Yasal, yakni Lansia dan anak-anak santri sekaligus menjadi pemateri dalam agenda kunjungan kali itu.

Terkait dengan terpilihnya Yasal Palu sebagai yayasan pembinaan Lansia terbaik se Asia Pasifik, nama Indonesia, dan Sulteng khususnya, harum dimata dunia. Apalagi, Presiden Komunitas Lansia Dunia, Prof Dr Catherine mengaku sangat bangga dengan Indonesia, karena banyak pemuda yang begitu antusias membina para Lansia, sehingga menjadikan Lansia itu berguna, hal itu yang membuat Deputy Pemberdayaan Perempuan tiba di Palu untuk meninjau langsung keberadaan Yasal di Kota Palu
Deputy Pemberdayaa Perempuan, Nimas Aulia, yang didampingi pendiri Yasal Palu Sabrin O Londongan yang ditemui disela-

sela acara kemarin kepada wartawan mengatakan kunjungan kali ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan untuk memberikan perhatian kepada tempat para orang tua ini. Sudah seharusnya Pemerintah Kabupaten, Pemprov dan Pusat memperhatikan kondisi disejumlah Panti Jompo..”Kita semua adalah manusia, dan kita semua lahir dari rahim ibu”, jadi sudah sewajarnya kita membantu para orang tua dan anak-anak  khususnya yang ada di Panti Yasal”. Imbuhnya. 


Nimas juga menuturkan kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian kami terhadap sesepuh atau orang tua yang menghuni Panti Yasal, sehingga anjangsana ini diharapkan bisa mempererat hubungan tali silaturahmi antara kita dan masyarakat, khususnya penghuni Panti Yasal ini. Sejumlah penghuni panti Yasal ini merespon baik kedatangan serta kunjungan yang dilakukan Deputy Pemberdayaan Perempuan ini.”Kami sangat berterima kasih” karena ibu sudah berkenan mengunjungi Panti Yasal yang berada di Kota Palu. Dalam kesempatan tersebut, bersama itu, Deputy Pemberdayaan Perempuan tersebut menyempatkan diri untuk bersilatuh rahim dan berfoto dengan sejumlah penghuni dan pengurus Yasal.

Sementara itu, Pendiri sekaligus ketua Yasal Sulteng Sabrin O Londongan, melalui Wakil Ketua III Bidang Humas Yasal Sulteng Agus Panca Saputra, yang dikonfirmasi media ini mengatakan, pihaknya sangat berterima kasih kepada Deputy Pemberdayaan Perempuan, untuk berkunjung ke Yasal Palu. “ Ini adalah terkait dengan prestasi pertama yang diraih Indonesia dalam perlombaan pembinaan Lansia tingkat dunia. Komisi Nasional (Komnas) Lansia RI, sangat bangga dengan keberhasilan ini, sehingga membuat utusan dari menteri dating berkunjung langsung ke Yasal” terang Agus.


Dia menambahkan, dengan terpilihnya Yasal Palu sebagai yayasan pembinaan Lansia terbaik se Asia Pasifik, nama Indonesia, dan Sulteng khususnya, harum dimata dunia. Apalagi, Presiden Komunitas Lansia Dunia, Prof Dr Catherine mengaku sangat bangga dengan Indonesia, karena banyak pemuda yang begitu antusias membina para Lansia, sehingga menjadikan Lansia itu berguna.

“Yayasan ini bukan pertamakali mengharumkan nama Sulteng. Pada tahun 2008, Yasal berhasil meraih penghargaan sebagai yayasan terbaik se Indonesia bidang managemen, administrasi dan idealism. Bahkan pada tahun itu, Yasal menempati peringkat 8 se Asia Tenggara, dalam segi pembinaan terpadu antar Lansia dan anak yatim,” tuturnya. Yudi